20 Tahun 9/11 di Mata Warga Afghanistan: Awal Masa Buruk hingga Kekecewaan Ditinggal AS

Serangan terorisme yang terjadi pada 11 September 2001 di Amerika Serikat menyisakan duka tersendiri bagi warga Afghanistan. Diberitakan sebelumnya, tepat pada Sabtu (11/9/2021) lalu serangan yang juga dikenal dengan sebutan peristiwa 9/11 itu berusia 20 tahun. Sebanyak 19 teroris membajak 4 pesawat komersil AS untuk menyerang sejumlah situs penting salah satunya World Trade Center (WTC) di New York City.

Serangan juga diarahkan ke Washington DC, Shanksville di Pennsylvania dan Pentagon di Virginia hingga diperkirakan menyebabkan korban jiwa sebanyak 2.977. Pimpinan Al Qaeda, Osama bin Laden, yang disebut dilindungi Taliban di Afghanistan diduga jadi dalang dari insiden ini. Bagi Afghanistan, serangan 9/11 merupakan pemicu Perang Afghanistan selama dua dekade.

Taliban yang berkuasa di Afghanistan sejak 1996 digulingkan oleh pasukan AS pada 2001 karena diduga banyak melindungi anggota Al Qaeda. Namun tahun ini, Taliban kembali memimpin Kabul dan sebagian besar negara setelah AS dan sekutu menarik pasukannya. "Ini adalah hari ketika masa masa buruk dimulai bagi Afghanistan dan warga Afghanistan," kata Haizbullah, seorang pedagang grosir di selatan kota Kandahar, jantung dan ibu kota asli Taliban.

Haizbullah skeptis bahwa tujuan AS menginvasi negaranya hanya karena ingin membalas Al Qaeda. Menurutnya pada Oktober 2001 lalu, AS datang untuk menunjukkan kekuatannya sebagai negara besar. "Amerika datang ke sini untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah negara adidaya dan 9/11 hanyalah alasan yang mereka buat untuk menduduki Afghanistan," katanya, dikutip dari .

Ketika Taliban digulingkan, jutaan warga Afghanistan kembali dari pengasingan. Saat itu perekonomian runtuh dan orang orang berusaha membangun lagi dari awal. "Kami kembali ke desa kami ketika orang Amerika datang, memulai hidup baru dan membangun semuanya dari nol lagi."

"Tapi sekarang saya mencoba membantu anggota keluarga saya untuk meninggalkan negara itu sekali lagi," kata Bilal Nimati, seorang pengusaha berusia 32 tahun yang melarikan diri ke India bulan lalu. Generasi perempuan yang sempat mendapat hak atas pendidikan dan pekerjaan kini takut kebebasan itu kembali direnggut setelah Taliban berkuasa. Seorang wanita bernama Shakila yang dulu keluar dari sekolah karena dilarang militan itu, kini bersembunyi usai mengorganisir protes perempuan.

"Saya sekolah, kuliah, dan kemudian bekerja di beberapa tempat, tapi sekarang saya hanya bersembunyi. Saya merasa tercekik," katanya kepada Observer. Warga Afghanistan yang menentang Taliban juga merasa ditinggalkan oleh pasukan asing. "Saya turut berduka untuk mereka yang tewas dalam serangan itu (9/11)," kata seorang warga Kabul.

"Tapi saya marah, mereka seharusnya tidak meninggalkan kami dalam semalam." "Mereka tidak membantu kami membangun negara, mereka hanya membangun kembali Afghanistan untuk Taliban," tambahnya. Di sisi lain, Taliban tidak memberikan respon apapun terkait peringatan 9/11 yang jatuh pada Sabtu lalu.

Bagi kelompok militan ini, mundurnya pasukan asing dari Afghanistan merupakan kemenangan. "Amerika menginvasi negara kami untuk apa yang telah dilakukan orang lain," kata Gholam Yahya, seorang pejuang di provinsi Badghis barat. "Tetapi kami tahu bahwa kami harus melawan dan mengusir mereka ke luar negeri. Dan kami melakukannya. Kami berjuang dan mati untuk apa yang telah dilakukan orang asing (Bin Laden)."

Sementara itu, peringatan resmi insiden 9/11 di New York dimulai dengan mengheningkan cipta pada pukul 08.46 waktu setempat, dimana itu adalah saat pesawat pertama menabrak Menara Utara World Trade Center. Ada beberapa momen hening lagi selama beberapa jam berikutnya yang itu bertepatan dengan pesawat kedua menabrak Menara Selatan, pesawat ketiga menabrak Pentagon di luar Washington DC, pesawat keempat jatuh di Pennsylvania, dan saat kedua menara runtuh.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.